Translate

Sabtu, 26 April 2014

Manajemen Kesehatan

A.    Manajemen Kesehatan
1.      Pengertian Manajemen
Stoner (1982) dalam Handoko (2003) menjelaskan bahwa manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk mengatur para petugas kesehatan dan non petugas kesehatan guna meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program kesehatan. Sistem pelayanan kesehatan adalah struktur atau gabungan dari subsistem dalam suatu unit atau dalam suatu proses untuk mengupayakan pelayanan kesehatan masyarakat baik preventif, promotif, kuratif, maupun rehabilitatif, sehingga sistem pelayanan kesehatan ini dapat berbentuk Puskesmas, Rumah Sakit, Balai Kesehatan Masyarakat, dan unit-unit atau organisasi-organisasi lain yang mengupayakan kesehatan.
2.      Fungsi Manajemen
Fungsi manajemen kesehatan masyarakat beberapa diantaranya yaitu fungsi perencanaan, fungsi pelaksanaan, fungsi monitoring, dan evaluasi.
a.       Fungsi Perencanaan
Peter R. Kongstvedt (2000) mengatakan bahwa perencanaan adalah merencanakan strategi, merencanakan sumber daya, merencanakan fasilitas, dan merencanakan keuangan. Perencanaan tersebut memungkinkan para pengambil keputusan atau manajer untuk menggunakan sumber daya mereka secara berhasil guna dan berdaya guna (Notoatmodjo, 1997).
b.      Fungsi Pelaksanaan
Azwar A. (1997) mengatakan bahwa setelah perencanaan dan pengorganisasian selesai dilakukan, maka selanjutnya yang perlu ditempuh dalam pekerjaan administrasi adalah mewujudkan rencana tersebut dengan mempergunakan organisasi yang terbentuk menjadi kenyataan. Ini berarti rencana tersebut dilaksanakan dan atau diaktualisasikan. 
c.       Fungsi Evaluasi
Menurut Notoatmodjo (2007), evaluasi merupakan bagian yang penting dari proses manajemen, karena dengan evaluasi akan diperoleh umpan balik (feedback) terhadap program atau pelaksanaan kegiatan. Evaluasi adalah membandingkan antara hasil yang telah dicapai oleh suatu program dengan tujuan yang telah direncanakan. Tanpa adanya evaluasi, sulit rasanya untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan yang direncanakan itu telah mencapai tujuan atau belum.
B.     Aplikasi Manajemen Kesehatan
1.      Manajemen Rumah Sakit
Konsep kesehatan masyarakat telah mengalami perubahan yang sangat besar dan telah memberikan suatu harapan baru bagi peningkatan kualitas perawatan dan fasilitas medis. Tuntutan masyarakat yang semakin tinggi menjadikan manajemen dalam sektor kesehatan/rumah sakit menjadi suatu isu strategis.
Manajemen di Rumah Sakit tidak lepas dari fungsi manajemen secara umum, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Perencanaan adalah salah satu fungsi manajemen yang penting. Perencanaan memegang peranan yang sangat strategis dalam keberhasilan upaya pelayanan di sebuah rumah sakit. Melalui penerapan sistem perencanaan yang baik, manajemen rumah sakit sesungguhnya telah memecahkan sebagian dari masalah pelayanan di rumah sakit tersebut karena upaya pengembangan di rumah sakit sudah didasarkan pada kebutuhan nyata perkembangan masalah kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya (Heine,.dkk, 2009).
Organisasi Rumah Sakit adalah sebuah organisasi yang sangat kompleks. Kompleksitas fungsi penggerakan (actuating) di sebuah rumah sakit juga dipengaruhi oleh dua aspek lain yaitu:
a.       Sifat pelayanan kesehatan yang berorientasi kepada konsumen penerima jasa pelayanan.
b.      Pelaksanaan fungsi actuating cukup kompleks karena tenaga yang bekerja di rumah sakit terdiri dari berbagai jenis profesi. Kompleksitas ketenagaan dan jenis profesi yang dimiliki oleh rumah sakit, menuntut dikembangkannya model partisipatif oleh pihak pimpinan rumah sakit.
Manajemen rumah sakit perlu melakukan sebuah reformasi dan terus meningkatkan kerja sama tim, kualitas hubungan dalam tim, dan komunikasi dinamis di dalam dan di antara tim organisasi, demi tercapainya tujuan organisasi rumah sakit tersebut (Heine,.dkk, 2009).
2.      Manajemen Program Kesehatan Masyarakat
Program Kesehatan Masyarakat adalah bagian dari program pembangunan kesehatan nasional. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kemandirian masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan, dengan titik berat pada upaya peningkatan kualitas hidup dan pencegahan penyakit, disamping pengobatan dan pemulihan (DKK Bandung, 2007). 
Hal yang diperlukan untuk dapat menerapkan prinsip-prinsip manajemen pada program Kesehatan Masyarakat adalah kajian program pokok kesehatan secara kritis (critical analysis). Melalui kajian program kesehatan akan dapat dirumuskan dua jenis masalah yang berkaitan dengan program kesehatan yaitu masalah program yang berkaitan dengan masalah manajemen pelayanan dan masalah kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan berbagai jenis penyakit yang berkembang pada kelompok-kelompok masyarakat. Kedua jenis masalah tersebut secara umum berbeda tetapi di lapangan satu sama lain saling berhubungan. Manajer program juga perlu merumuskan berbagai masalah yang berkaitan dengan kualitas pelayanan, efisiensi, dan efektifitas pelayanan program (masalah program). Sebelum merumuskan kedua masalah tersebut, perlu dipahami dan dimanfaatkan berbagai prinsip-prinsip dasar ilmu kesehatan masyarakat seperti ilmu kedokteran pencegahan terutama yang dapat diterapkan pada program yang bersangkutan, epidemiologi deskriptif dan statistik sederhana, konsep dasar terjadinya penyakit (segitiga epidemiologi), paradigma Blum, dan pendekatan sistem (Muninjaya, 2004). 

C.    Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
1.      Upaya Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Upaya kesehatan adalah upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan, dan pemulihan kesehatan serta upaya penunjang yang diberlakukan (Anonim, 1994). Usaha KIA yang bergerak dalam pendidikan kesehatan, pencegahan penyakit, dan peningkatan kesehatan, penting sekali untuk meningkatkan kesehatan umum dari masyarakat. Sasaran KIA adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak sampai dengan umur 5 tahun (Muninjaya, 2004).
Kementerian kesehatan dalam upaya penurunan angka morbiditas ibu dan anak menekankan pada penyediaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Balai Kesehatan Ibu Anak (BKIA) merupakan suatu wadah yang diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dimana pada balai kesehatan ibu dan anak terdapat berbagai program yang menunjang dalam pencapaian kesehatan khususnya ibu dan anak. Berikut adalah ruang lingkup BKIA:
a.       Pelayanan tumbuh kembang anak : Pemantauan pertumbuhan, penentuan status gizi dan konseling, deteksi dini dan stimulasi perkembangan, pengukuran antropometri, imunisasi, penyuluhan kesehatan anak, konsultasi laktasi, pijat bayi, konsultasi dengan unit terkait misalnya ahli gizi, psikologi, dokter anak dll.
b.      Pelayanan Antenatal care minimal 4 kali, yaitu : pada triwulan pertama 1X, triwulan ke dua 1X, dan pada triwulan ketiga 2X
c.       Pemeriksaan kehamilan
d.      Pelayanan keluarga berencana
e.       Klinik laktasi
Pelayanan tesebut harus menggunakan buku KIA sebagai catatan serta pendokumentasian dan bidan yang bertugas di Balai Kesehatan Ibu Anak harus sudah APN (Ferdinand, 2008).
Perhatian terbesar pada kebutuhan kesehatan reproduksi perempuan adalah bagaimana mencegah penyebab utama kesakitan dan kematian maternal. International Conference on Population and Development (ICPD) di Kairo mencanangkan program Safe Motherhood, sebagai strategi untuk menurunkan tingkat kesakitan dan kematian maternal. Program itu bertujuan untuk mempromosikan kesehatan perempuan dan Safe Motherhood, menyukseskan percepatan, penurunan tingkat kesakitan dan kematian maternal, memberikan komitmen untuk menurunkan jumlah kematian dan kesakitan dari aborsi yang tidak aman, dan meningkatkan status kesehatan serta gizi perempuan khususnya perempuan hamil (United Nations 1994, diacu oleh Rachmawati 2004).
2.      Akses Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Selama beberapa tahun terakhir, terjadi banyak kemajuan dalam penyediaan pelayanan kesehatan masyarakat di negara berkembang. Kemajuan ini tidaklah merata terutama pada wanita, mereka belum memperoleh pelayanan yang proporsional. Tidak memadainya akses pelayanan kesehatan bagi wanita juga tercermin dari statistik kematian. Penurunan AKB secara bermakna telah terjadi selama beberapa tahun terakhir, meskipun AKI tetap tinggi. Selama ini ”kesehatan ibu” mendapat porsi perhatian terbesar dalam kebutuhan kesehatan wanita secara umum. Akses pelayanan yang efektif dapat dijamin jika pelayanan terjangkau secara finansial, dianggap sesuai, dan dapat diterima oleh wanita sebagai pengguna pelayanan (Koblinsky, 1997).
Hambatan utama yang dihadapi oleh masyarakat sosial ekonomi rendah untuk memperoleh pelayanan kesehatan adalah kurangnya infrastruktur fisik. Hal ini tentu saja masih dialami oleh sebagian besar wanita di negara berkembang, yang menunjukkan ketidakadilan yang besar dalam distribusi petugas dan fasilitas kesehatan, serta infrastruktur komunikasi dan transportasi yang belum dikembangkan secara memadai (Koblinsky, 1997).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar