A.
Manajemen Kesehatan
1.
Pengertian Manajemen
Stoner (1982) dalam Handoko (2003) menjelaskan bahwa
manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya
organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Notoatmodjo (2007)
mengatakan bahwa manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni
untuk mengatur para petugas kesehatan dan non petugas kesehatan guna
meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program kesehatan. Sistem pelayanan
kesehatan adalah struktur atau gabungan dari subsistem dalam suatu unit atau
dalam suatu proses untuk mengupayakan pelayanan kesehatan masyarakat baik
preventif, promotif, kuratif, maupun rehabilitatif, sehingga sistem pelayanan
kesehatan ini dapat berbentuk Puskesmas, Rumah Sakit, Balai Kesehatan
Masyarakat, dan unit-unit atau organisasi-organisasi lain yang mengupayakan
kesehatan.
2.
Fungsi Manajemen
Fungsi manajemen kesehatan masyarakat beberapa diantaranya
yaitu fungsi perencanaan, fungsi pelaksanaan, fungsi monitoring, dan evaluasi.
a. Fungsi Perencanaan
Peter R. Kongstvedt (2000) mengatakan bahwa perencanaan
adalah merencanakan strategi, merencanakan sumber daya, merencanakan fasilitas,
dan merencanakan keuangan. Perencanaan tersebut memungkinkan para pengambil
keputusan atau manajer untuk menggunakan sumber daya mereka secara berhasil
guna dan berdaya guna (Notoatmodjo, 1997).
b. Fungsi Pelaksanaan
Azwar A. (1997) mengatakan bahwa setelah perencanaan dan
pengorganisasian selesai dilakukan, maka selanjutnya yang perlu ditempuh dalam
pekerjaan administrasi adalah mewujudkan rencana tersebut dengan mempergunakan
organisasi yang terbentuk menjadi kenyataan. Ini berarti rencana tersebut
dilaksanakan dan atau diaktualisasikan.
c. Fungsi Evaluasi
Menurut Notoatmodjo
(2007), evaluasi merupakan bagian yang penting dari proses manajemen, karena
dengan evaluasi akan diperoleh umpan balik (feedback)
terhadap program atau pelaksanaan kegiatan. Evaluasi adalah membandingkan
antara hasil yang telah dicapai oleh suatu program dengan tujuan yang telah
direncanakan. Tanpa adanya evaluasi, sulit rasanya untuk mengetahui sejauh mana
tujuan-tujuan yang direncanakan itu telah mencapai tujuan atau belum.
B.
Aplikasi Manajemen
Kesehatan
1.
Manajemen Rumah Sakit
Konsep kesehatan
masyarakat telah mengalami perubahan yang sangat besar dan telah memberikan
suatu harapan baru bagi peningkatan kualitas perawatan dan fasilitas medis.
Tuntutan masyarakat yang semakin tinggi menjadikan manajemen dalam sektor
kesehatan/rumah sakit menjadi suatu isu strategis.
Manajemen di Rumah Sakit tidak lepas dari fungsi manajemen
secara umum, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Perencanaan adalah
salah satu fungsi manajemen yang penting. Perencanaan memegang peranan yang
sangat strategis dalam keberhasilan upaya pelayanan di sebuah rumah sakit.
Melalui penerapan sistem perencanaan yang baik, manajemen rumah sakit
sesungguhnya telah memecahkan sebagian dari masalah pelayanan di rumah sakit
tersebut karena upaya pengembangan di rumah sakit sudah didasarkan pada
kebutuhan nyata perkembangan masalah kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya
(Heine,.dkk, 2009).
Organisasi Rumah Sakit adalah sebuah organisasi yang sangat
kompleks. Kompleksitas fungsi penggerakan (actuating)
di sebuah rumah sakit juga dipengaruhi oleh dua aspek lain yaitu:
a. Sifat pelayanan
kesehatan yang berorientasi kepada konsumen penerima jasa pelayanan.
b. Pelaksanaan fungsi actuating cukup kompleks karena tenaga
yang bekerja di rumah sakit terdiri dari berbagai jenis profesi. Kompleksitas
ketenagaan dan jenis profesi yang dimiliki oleh rumah sakit, menuntut
dikembangkannya model partisipatif oleh pihak pimpinan rumah sakit.
Manajemen rumah sakit
perlu melakukan sebuah reformasi dan terus meningkatkan kerja sama tim,
kualitas hubungan dalam tim, dan komunikasi dinamis di dalam dan di antara tim
organisasi, demi tercapainya tujuan organisasi rumah sakit tersebut
(Heine,.dkk, 2009).
2.
Manajemen Program
Kesehatan Masyarakat
Program Kesehatan Masyarakat adalah
bagian dari program pembangunan kesehatan nasional. Tujuan utamanya adalah
untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kemandirian masyarakat dalam
pemeliharaan kesehatan, dengan titik berat pada upaya peningkatan kualitas
hidup dan pencegahan penyakit, disamping pengobatan dan pemulihan (DKK Bandung, 2007).
Hal yang diperlukan untuk dapat menerapkan
prinsip-prinsip manajemen pada program Kesehatan Masyarakat adalah kajian
program pokok kesehatan secara kritis (critical
analysis). Melalui kajian program kesehatan akan dapat dirumuskan dua jenis
masalah yang berkaitan dengan program kesehatan yaitu masalah program yang
berkaitan dengan masalah manajemen pelayanan dan masalah kesehatan masyarakat
yang berhubungan dengan berbagai jenis penyakit yang berkembang pada
kelompok-kelompok masyarakat. Kedua jenis masalah tersebut secara umum berbeda
tetapi di lapangan satu sama lain saling berhubungan. Manajer program juga
perlu merumuskan berbagai masalah yang berkaitan dengan kualitas pelayanan,
efisiensi, dan efektifitas pelayanan program (masalah program). Sebelum
merumuskan kedua masalah tersebut, perlu dipahami dan dimanfaatkan berbagai
prinsip-prinsip dasar ilmu kesehatan masyarakat seperti ilmu kedokteran
pencegahan terutama yang dapat diterapkan pada program yang bersangkutan,
epidemiologi deskriptif dan statistik sederhana, konsep dasar terjadinya
penyakit (segitiga epidemiologi), paradigma Blum, dan pendekatan sistem
(Muninjaya, 2004).
C.
Pelayanan Kesehatan
Ibu dan Anak
1.
Upaya Pelayanan
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Upaya kesehatan adalah upaya peningkatan, pencegahan,
penyembuhan, dan pemulihan kesehatan serta upaya penunjang yang diberlakukan
(Anonim, 1994). Usaha KIA yang bergerak dalam pendidikan kesehatan, pencegahan
penyakit, dan peningkatan kesehatan, penting sekali untuk meningkatkan
kesehatan umum dari masyarakat. Sasaran KIA adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan
anak-anak sampai dengan umur 5 tahun (Muninjaya, 2004).
Kementerian kesehatan dalam upaya penurunan
angka morbiditas ibu dan anak menekankan pada penyediaan dan pemanfaatan
pelayanan kesehatan. Balai Kesehatan Ibu Anak (BKIA) merupakan suatu wadah yang
diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak dalam upaya
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dimana
pada balai kesehatan ibu dan anak terdapat berbagai program yang menunjang
dalam pencapaian kesehatan khususnya ibu dan anak. Berikut adalah ruang lingkup
BKIA:
a.
Pelayanan tumbuh kembang anak : Pemantauan pertumbuhan, penentuan status
gizi dan konseling, deteksi dini dan stimulasi perkembangan, pengukuran
antropometri, imunisasi, penyuluhan kesehatan anak, konsultasi laktasi, pijat
bayi, konsultasi dengan unit terkait misalnya ahli gizi, psikologi, dokter anak
dll.
b.
Pelayanan Antenatal care minimal 4 kali, yaitu : pada triwulan pertama 1X,
triwulan ke dua 1X, dan pada triwulan ketiga 2X
c.
Pemeriksaan kehamilan
d.
Pelayanan keluarga berencana
e.
Klinik laktasi
Pelayanan
tesebut harus menggunakan buku KIA sebagai catatan serta pendokumentasian dan
bidan yang bertugas di Balai Kesehatan Ibu Anak harus sudah APN (Ferdinand,
2008).
Perhatian terbesar
pada kebutuhan kesehatan reproduksi perempuan adalah bagaimana mencegah
penyebab utama kesakitan dan kematian maternal. International Conference on
Population and Development (ICPD) di Kairo mencanangkan program Safe Motherhood, sebagai strategi untuk
menurunkan tingkat kesakitan dan kematian maternal. Program itu bertujuan untuk
mempromosikan kesehatan perempuan dan Safe
Motherhood, menyukseskan percepatan, penurunan tingkat kesakitan dan
kematian maternal, memberikan komitmen untuk menurunkan jumlah kematian dan
kesakitan dari aborsi yang tidak aman, dan meningkatkan status kesehatan serta gizi perempuan
khususnya perempuan hamil (United Nations 1994, diacu oleh Rachmawati 2004).
2.
Akses Pelayanan
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Selama beberapa tahun terakhir, terjadi banyak kemajuan dalam
penyediaan pelayanan kesehatan masyarakat di negara berkembang. Kemajuan ini
tidaklah merata terutama pada wanita, mereka belum memperoleh pelayanan yang
proporsional. Tidak memadainya akses pelayanan kesehatan bagi wanita juga
tercermin dari statistik kematian. Penurunan AKB secara bermakna telah terjadi
selama beberapa tahun terakhir, meskipun AKI tetap tinggi. Selama ini
”kesehatan ibu” mendapat porsi perhatian terbesar dalam kebutuhan kesehatan
wanita secara umum. Akses pelayanan yang efektif dapat dijamin jika pelayanan
terjangkau secara finansial, dianggap sesuai, dan dapat diterima oleh wanita
sebagai pengguna pelayanan (Koblinsky, 1997).
Hambatan utama yang
dihadapi oleh masyarakat sosial ekonomi rendah untuk memperoleh pelayanan
kesehatan adalah kurangnya infrastruktur fisik. Hal ini tentu saja masih
dialami oleh sebagian besar wanita di negara berkembang, yang menunjukkan
ketidakadilan yang besar dalam distribusi petugas dan fasilitas kesehatan,
serta infrastruktur komunikasi dan transportasi yang belum dikembangkan secara
memadai (Koblinsky, 1997).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar